Eziamelia
Minggu, 31 Mei 2015
Rabu, 27 Mei 2015
PEMBELAJARAN BERBASIS WEB (E-LEARNING)
PEMBELAJARAN
BERBASIS WEB (E-LEARNING)
A.KONSEP PEMBELAJARAN BERBASIS
WEB (E-LEARNING)
Pembelajaran berbasis web merupakan
suatu kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media situs (website) yang
bisa diakses melalui jaringan internet. Pembelajaran berbasis web atau yang
dikenal juga dengan "web based learning" merupakan salah satu
jenis penerapan dari pembelajaran elektronik (e-learning).
Himpunan Masyarakat Amerika untuk
Kegiatan Pelatihan dan Pengembangan (The American Society for training and
Development/ ASTD) (2009), mengemukakan definisi e-learning sebagai
berikut :
"E-learning is a broad set of
applications and processes which include web-based-learning,
computer-based-learning, virtual and digital classrooms. Much of this delivered
via the internet, intranets, audio and videotape, satellite broadcast,
interactive TV, and CD-ROM. The definition of e-learning varies depending on
the organization and how it is used but basically it is involves electronic
means communication, education, and training".
Definisi tersebut menyatakan bahwa
e-learning merupakan proses dan kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web (web-based
learning), pembelajaran berbasis komputer (computer based learning),
kelas virtual (virtual classrooms), dan atau kelas digital (digital
classrooms). Materi-materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut
kebanyakan dihantarkan melalui media internet, intranet, tape video atau audio,
penyiaran melalui satelit, televisi interaktif serta CD-Rom. Definisi ini juga
menyatakan bahwa definisi dari e-learning itu bisa bervariasi tergantug
dari penyelanggara kegiatan e-learning tersebut dan bagaimana cara
penggunaannya, termasuk juga apa tujuan penggunaannya.
Definisi ini juga menyiratkan
simpulan yang menyatakan bahwa e-leraning pada dasarnya adalah
pengaplikasian kegiatan komunikasi pendidikan dan pelatihan secara elektronik.
E-leraning tidak
sama dengan pemebelajaran konvensional. E-learning memiliki
karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
- Interactivity (Interaktivitas); tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous), seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchronous), seperti forum, mailing list atau buku tamu.
- Independency (Kemandirian); flesibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar. Hal ini menyebabkan pembelajaran lebih terpusat kepada siswa (student-centered learning).
- Accessibility (aksesibilitas); sumber-sumber belajar jadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di jaringan internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber belajar pada pembelajaran konvensional.
- Enrichment (Pengayaan); kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informan seperti video streaming, simulasi dan animasi.
Keempat
karakteristik di atas merupakan hal yang membedakan e-learning dari
kegiatan pembelajaran secara konvensional. Dalam e-learning, daya
tangkap siswa terhadap materi pembelajaran tidak lagi tergantung pada
instruktur/ guru, karena siswa mengkonstruk sendiri ilmu pengetahuannya melalui
bahan-bahan ajar yang disampaikan melalui interfaces situs web. Dalam e-learning
pula, sumber ilmu pengetahuan tersebar dimana-mana serta dapat diakses
dengan mudah oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan sifat media internet yang
mengglobal dan bisa diakses oleh siapapun yang terkoneksi didalamnya. Terakhir,
dalam e-learning pengajar/lembaga pendidikan berfungsi sebagai salah
satu sumber ilmu pengetahuan.
E-learning
adalah segala aktivitas belajar yang menggunakan bantuan
teknologi elektronik. E-learning juga dapat diaplikasikan dalam
pendidikan konvensional dan pendidikan jarak jauh. Web-based learning, merupakan
salah satu bentuk e-learning yang materi maupun cara penyampaiannya (delivery
method) melalui internet (web). Berikut adalah beberapa definisi
pembelajaran berbasis web:
- Any learning experience or enviroment that relies upon the internet/ world wide web as the primary delivery mode of communication and presentation (http://www.usd.edu). Menyatakan bahwa setiap pengalaman atau lingkungan belajar yang bertumpu kepada internet/ worl wide web sebagai saran penyampaian komunikasi dan presentasi.
- E-learning specifically over the internet as opposed to other networks (http://www.onlinedegreezone.com). Bahwa e-learning melalui internet dibandingkan jaringan lainnya.
Berdasarkan definisi-definisi
diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis web adalah sebuah
pengalaman belajar dengan memanfaatkan jaringan internet untuk berkomunikasi
dan menyampaikan informasi pembelajarna.
Web
dapat menciptakan sebuah lingkungan belajar maya (Virtual Learning
Environment). Lingkungan belajar yang disediakan oleh web dilengkapi dengan
beberapa fasilitas yang dapat kita kombinasikan penggunaannya untuk mendukung
proses pembelajaran, antara lain forum diskusi, chat, penilaian online,
dan sistem administrasi. Lingkungan belajar maya yang disediakan oleh web
berfungsi sebagaimana lingkungan belajar konvensional yang dapat menyampaikan
informasi kepada pembelajar.
B. FUNGSI DAN MANFAAT PEMBELAJARAN BERBASIS WEB
Berikut
akan dijelaskan secara langsung fungsi dan manfaat dari pembelajaran berbasis
web antara lain :
a. Access is available anytime,
anywhere, around the globe
(Akses tersedia kapanpun, di manapun, di seluruh
dunia)
Internet
telah menjadi sebuah sarana komunikasi 2 arah yangsangat banyak digunakan. Kini
seorang peserta didik memiliki akses yang sangat besar terhadap informasi
apapun, termasuk informasi pembelajaran. Melalui koneksi Internet pada
laptopnya,komputernya, telepon genggamnya, atau koneksi Internet di sarana-sarana
umum, siswa bisa mengakses program pembelajaran yangsedang diikutinya. Ia bisa
mengikuti kegiatan pembelajaran,mengerjakan tugas, mengikuti informasi
perkembangan materi pembelajaran, berkomunikasi dan berdiskusi dengan
guru/pesertadidik lainnya, memeriksa nilai, memeriksa absensi dan
melakukanhal-hal lainnya yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran berbasis
web, semuanya dilakukan secara online
b.Per-student equipment costs are
affordable (Biaya operasionalsetiap siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran
menjadilebih terjangkau)
c.Student tracking is made easy (Pengawasan
terhadapperkembangan siswa jadi lebih mudah)
Melalui
pembelajaran berbasis web, segala aktifitas pembelajaran siswa akan dicatat
dalam sebuah database yang tersimpan
di server . Administrator, guru, orang tua murid danmurid itu sendiri dapat
melihat data-data akademik seperti program pembelajaran yang telah diikuti
murid, tugas-tugas yang harusdikerjakannya, nilainya pada mata pelajaran
tertentu, nilainyasecara akumulatif, catatan kegiatan diskusinya serta
data-datalainnya. Hak akses terhadap informasi akademik ini tentunya bisadiatur
sesuai kebutuhan. Misalnya, pihak yang berhak untuk melihat nilai akumulatif
siswa hanyalah guru/orang tua murid saja,sedangkan murid hanya bisa mengakses
nilainya yang terakhir saja.
d.Possible “learning object”
architecture supports on demand, personalized learning (Rancangan pembelajaran
berbasis web memungkinkan dilakukannya kegiatan pembelajaran yangsudah
terpersonalisasi)
Dengan
pembelajaran berbasis web, secara virtual tidak ada batasan untuk materi
pembelajaran. Hal ini memungkinkan materi pembelajaran bisa dipersonalisasi
sesuai kebutuhan kegiatan pembelajaran. Misalnya, untuk menerangkan materi
tentang orbitplanet-planet di tata surya, guru tidak hanya memberikan
materilewat tulisan saja, tapi ia juga bisa menyisipkan media-media
pembelajaran seperti animasi atau peta interaktif. Hal ini membuat pembelajaran
menjadi lebih variatif dan menarik, sehingga pengalaman belajar siswapun
menjadi lebih bermacam-macam.Untuk menunjang penyediaan media pembelajaran
dalam pembelajaran berbasis web ini, guru dituntut untuk memiliki skill lain
dalam bidang pengembangan media, misalnya kemampuanolah gambar untuk
menyediakan media grafis, atau kemampuanmengembangkan animasi berbasis flashuntuk
menyediakan mediaanimasi.
e. content is easily updated (Materi
pembelajaran bisadiperbaharui secara lebih mudah)
Poin
ini mungkin merupakan poin keuntungan terbesar yang bisa didapat dari sebuah
pembelajaran berbasis web. Di zamanseperti sekarang ini, di mana ilmu
pengetahuan senantiasa berkembang, materi-materi pembelajaran bisa berubah
setiap saat.Dalam pembelajaran konvensional yang menggunakan media bukutercetak
atau CD-ROM , materi pembelajaran tentunya tidak bisadiperbaharui dengan mudah,
melainkan harus melalui proses revisi,cetak ulang, atau pembuatan ulang.
C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
PEMBELAJARAN BERBASIS WEB
Kelebihan Pembelajaran Berbasis WEB
- Memungkinkan setiap orang dimanapun, kapanpun, untuk mempelajari apapun.
- Pebelajar dapat belajar sesuai dengan karaktristik dan langkahnya dirinya sendiri karen apembelajaran berbasis web membuat pembela-jaran menjadi bersifat individual.
- Kemampuan untuk membuat tautan (link), sehingga pebelajar dapat mengakses informasi dari berbagai sumber, baik di dalam maupun luar lingkungan belajar.
- Sangat potensial sebagai sumber belajar bagi pebelajar yang tidak memiliki cukup waktu untuk belajar.
- Dapat mendorong pebelajar lebih aktif dan mandiri di dalam belajar.
- Menyediakan sumber belajar tambahan yang dapat digunakan untuk memperkaya materi pemeblajaran.
- Menyediakan mesin pencari yang dapat digunakan untuk mencari informasi yang mereka butuhkan.
- Isi materi pelajaran dapat di-update dengan mudah.
Kekurangan Pembelajaran Berbasis WEB
- Keberhasilan pembelajaran berbasis web tergantung paa kemandirian dan motivasi pembelajar.
- Akses untuk mengikuti pembelajaran dengan menggunakan web seringkali menjadi masalah bagi pembelajar.
- Pembelajar dapat cepat merasa bosan dan jenuh jika mereka tidak dapat mengakses informasi, dikarenakan tidak terdapat peralatan yang memadai dan bandwidth yang cukup.
- Dibutuhkannya panduan bagi pembelajar untuk mencari informasi yang elevan, karena informasi yang terdapat di dalam web sangat beragam.
- Dengan menggunakan pembelajaran berbasis web, pembelajar terkadang merasa terisolasi, terutama jika terdapat keterbatasan dalam fasilitas komunikasi.
D. Pengertian e-learning
Belum
adanya standard yang baku baik dalam hal definisi maupun implementasi
e-learning menjadikan banyak orang mempunyai konsep yang bermacam-macam.
E-learning merupakan kependekan dari electronic learning (Sohn, 2005). Salah
satu definisi umum dari e-learning diberikan oleh Gilbert & Jones (2001),
yaitu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik seperti
Internet, intranet/extranet, satellite broadcast, audio/video tape, interactive
TV, CD-ROM, dan computer-based training (CBT). Definisi yang hampir sama
diusulkan juga oleh the Australian National Training Authority (2003) yakni
meliputi aplikasi dan proses yang menggunakan berbagai media elektronik seperti
internet, audio/video tape, interactive TV and CD-ROM guna mengirimkan materi
pembelajaran secara lebih fleksibel.
The ILRT
of Bristol University (2005) mendefinisikan e-learning sebagai penggunaan
teknologi elektronik untuk mengirim, mendukung, dan meningkatkan pengajaran,
pembelajaran dan penilaian. Di samping itu, istilah e-learning meliputi
berbagai aplikasi dan proses seperti computer-based learning, web-based
learning, virtual classroom. Sementara itu pembelajaran on-line adalah bagian
dari pembelajaran berbasis teknologi yang memanfaatkan sumber daya internet. Lebih
khusus lagi Rosenberg (2001) mendefinisikan e-learning sebagai pemanfaatan
teknologi internet untuk mendistribusikan materi pembelajaran, sehingga siswa
dapat mengakses dari mana saja.
Secara
lebih rinci Rosenberg (2001) mengkategorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam
e-Learning, yaitu:
a. e-Learning bersifat jaringan, yang
membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali,
mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini
sangatlah penting dalam e-learning, sehingga Rosenberg menyebutnya sebagai
persyaratan absolut.
b. e-Learning dikirimkan kepada
pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD ROM,
Web TV, Web Cell Phones, pagers, dan alat bantu digital personal lainnya
walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa digolongkan
sebagai e-learning.
c. e-Learning terfokus pada
pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli
paradigma tradisional dalam pelatihan.
E.
Pengembangan e-learning dalam Pembelajaran Web
Pengembangan pembelajaran berbasis
e-learning perlu dirancang secara cermat sesuai tujuan yang diinginkan. Jika
kita setuju bahwa e-learning di dalamnya juga termasuk pembelajaran berbasis
internet, maka pendapat Haughey (dalam H, Nurhikmah) perlu dipertimbangkan
dalam pengembangan e-learning. Menurutnya ada tiga kemungkinan dalam
pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web
centric course, dan web enhanced course”.
Web course adalah penggunaan
internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar
sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar,
diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran
lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini
menggunakan sistem jarak jauh, missal universitas terbuka dan virtual school.
Model web enhanced course adalah
pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang
dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan
komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota
kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran
pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di
internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan
dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan
diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan
lain yang diperlukan.
Pengembangan e-learning tidak
semata-mata hanya menyajikan materi pelajaran secara online saja, namun harus
komunikatif dan menarik. Materi pembelajaran didesain seolah peserta didik
belajar dihadapan pengajar memalui layar komputer yang dihubungkan melalui
jaringan internet. Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan
diminati dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, ada tiga syarat hal yang
wajib dipenuhi dalam merancang e-learning, yaitu:
1. Sederhana, sistem yang sederhana akan memudahkan peserta
didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada
panel yang disediakan, waktu belajar peserta akan lebih efisien.
2. Personal, pengajar/dosen dapat berinteraksi dengan baik
dengan mahasiswanya, seperti layaknya berkomunikasi di depan kelas. Dengan
pendekatan dan interaksi yang lebih personal, peserta didik diperhatikan
kemajuanya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapi.
3. Cepat, layanan yang ditunjang dengan kecepatan, respon
yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta didik, sehingga perbaikan
pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar atau pengelola.
F.
Manfaat e-learning dalam Pembelajaran
Pemanfaatan e-learning tidak
terlepas dari jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang tersedia di
internet begitu lengkap, maka hal ini akan berpengaruhi terhadap tugas guru
dalam proses pembelajaran. Dahulu, proses belajar mengajar didominasi oleh
peran guru disebut the era of teacher, sementara siswa hanya mendengar
penjelasan guru. Kemudian, proses belajar dan mengajar didominasi oleh peran
guru dan buku (the era of teacher and book) dan pada saat ini proses belajar
dan mengajar didominasi oleh peran guru, buku dan teknologi (the era of
teacher, book and technology).
Beberapa manfaat yang bisa dinikmati
dari proses pembelajaran dengan e-learning, diataranya :
1.
Fleksibilitas.
Jika
pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada
jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka
e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk
mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat
pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki
akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan
laptop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses
e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis
(di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam
perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan
disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.
2. Independent Learning E-learning
memberikan
kesempatan bagi pembelajar untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar
masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan
mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin
dipelajarinya terlebih dulu. Ia bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman
yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia
anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu
bagian, ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya,
setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi
instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada
waktu-waktu tertentu. Jika ia tidak sempat mengikuti dialog interaktif, ia bisa
membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (di Website
pengelola). Banyak orang yang merasa cara belajar independen seperti ini lebih
efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajar dengan
urutan yang telah ditetapkan.
3. Biaya Banyak biaya yang bisa dihemat
dari cara pembelajaran dengan e-learning.
Biaya di
sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial.
Secara finansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke
tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar
berada di kota lain dan negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya:
biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya instruktur dan tenaga
administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana
dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan
kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP).
G.
Kelebihan Dan Kekurangan e-Learning
Dari berbagai pengalaman dan juga
dari berbagai informasi yang tersedia di literatur, memberikan petunjuk tentang
manfaat penggunaan internet, khususnya dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh
(Soekartawi, 2002), antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.
a. Tersedianya fasilitas e-moderating di mana guru dan siswa
dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau
kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh
jarak, tempat dan waktu.
b. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek
sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial;
c. Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah
pelatihan daripada pendidikan;
d. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik
pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran
yang menggunakan ICT;
e. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi
cenderung gagal;
f. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin
hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun
komputer);
g. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan
soal-soal internet; dan h. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
Daftar Pustaka
Cisco. 2001. e-Learning: Combines
Communication, Education, Information, and Training.
http://ww.cisco.com/warp/public/10/wwtraining/elearning.
Gilbert,
& Jones, M. G. 2001. E-learning is e-normous. Electric Perspectives, 26(3),
66-82.
http://kurtek.upi.edu/tik/content/web.pdf, diakses pada
tangggal 21 Februari 2014, pukul 14.27 WIB
Selasa, 26 Mei 2015
BLENDED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN
BLENDED
LEARNING DALAM PEMBELAJARAN
A.Konsep Blended Learning
Secara etimologi istilah blended learning terdiri
dari dua kata blended dan learning. Kata blend berarti “campuran,
bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik” (Collins Dictionary),
atau formula suatu penyelarasan kombinasi atau perpaduan. Sedangkan learning
memiliki makna umum yakni belajar, dengan demikian sepintas mengandung makna
pola pembelajaran yang mengandung unsur percampuran, atau penggabungan antara
satu pola dengan pola lainnya. Elenena Mosa (2006) menyampaikan bahwa yang
dicampurkan adalah dua unsur utama, yakni pembelajaran di kelas (classroom
lesson) dengan online learning.
Pada
perkembangannya istilah yang lebih populer adalah blended e-learning
dibandingkan dengan blended learning. Kedua istilah tersebut merupakan isu
pendidikan terbaru dalam perkembangan globalisasi dan teknologi blended
e-learning.
Zhao (2008:162)
menjelaskan “issu Blended Blended e-Learning sulit untuk didefinisikan karena
merupakan sesuatu yang baru”.Berdasarkan pendapat tersebut, terdapat persamaan
antara Blended Blended e-learning yaitu penggabungan aspek blended e-learning
yang termasuk web-based instruction, streaming video, audio, synchronous and
asychronous communication atau aspek terbaik pada aplikasi teknologi informasi
blended e-learning, dengan kegiatan tatap muka.
Dapat dikatakan
secara sederhana Blended Blended e-Learning adalah kombinasi atau
penggabungan pendekatan aspek blended e-learning yang berupa web-based
instruction, video streaming, audio, komunikasi synchronous dan asynchrounous
dalam jalur blended –learning system LSM dengan pembelajaran tradisional
“tatap-muka” termasuk juga metode mengajar, teori belajar dan dimensi
pedagogik.
B.
Karakteristik Blended Blended e-Learning
Menurut Sharpen et.al. (2006:18) karakteristik Blended
Blended –Learning, adalah:
1.
Ketetapan sumber suplemen untuk program belajar yang berhubungan selama garis
tradisional sebagian besar, melalui institusional pendukung lingkungan belajar
virtual.
2. Transformatif tingkat praktik pembelajaran
didukung oleh rancangan pembelajaran sampai mendalam.
3. Pandangan
menyeluruh tentang teknologi untuk mendukung pembelajaran.
Berdasarkan
penjelasan diatas, karakteristik Blended Blended e-Learning adalah
sumber suplemen, dengan pendekatan tradisional juga mendukung lingkungan
belajar virtual melalui suatu lembaga, rancangan pembelajaran yang mendalam
pada saat perubahan tingkatan praktik pembelajaran dan pandangan tentang semua
teknologi digunakan untuk mendukung pembelajaran. Penerapan suatu model
pembelajaran harus berdasarkan teori belajar yang cocok untuk proses
pembelajaran agar kelangsungan proses tersebut dapat sesuai dengan tujuan yang
telah ditentukan.
Berdasarkan
komponen yang ada dalam Blended Blended e-learning maka teori belajar yang
mendasari model pembelajaran tersebut adalah teori belajar Konstuktivisme (individual
learning). Karakteristik teori belajar konstruktivisme (individual
learning) untuk blended e-learning (Hasibuan, 2006:4) adalah sebagai berikut.
1. Active
learnes
2. Learners construct
their knowledge
3. Subjective, dynamic and
expanding
4. Processing and
understanding of information
5. Learners has his own
learning.
Individual
learning dalam teori ini pelajar adalah peserta yang aktif, kalau dapat
membangun pengetahuan mereka sendiri, secara subjektif, dinamis dan berkembang.
Kemudian memproses dan memahami suatu informasi, sehingga pelajar memilik
pembelajarannya sendiri. Pelajar membangun pengetahuan mereka berdasarkan atas
pengetahuan dari pengalaman yang mereka alami sendiri. Teori belajar berikutnya
yang melandasi model Blended Blended e- learning adalah teori belajar
kognitf. Pendekatan kognitif menekankan bagan sebagai satu struktur pengetahuan
yang diorganisasi (Brunner,1990; Gagne et.al., 1993). Menurut Bloom (1956)
mengindentifikasi enam tingkatan belajar kognitif yaitu “pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, dan sintesis”.
Teori terakhir
adalah teori belajar konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vygotsky.
Menurut Vigotsky (1978) adalah sebagai berikut: the way learners construct
knowledge, think, reason, and reflect on is uniquely shaped by their
relationship with other. He argued that the guidance given by more capable other,
allows the learner to engage is levels of activity that could not be managed
alone. Konstruktivisme sosial disebut juga collaborative learning.
Karakteristik teori belajar tersebut adalah sebagai berikut (Hasibuan, 2006:4):
Teori ini
membuat pelajar membangun pengetahuan, berfikir, mencari alasan, dan
dicerminkan dengan bentuk yang unik melalui berhubungan dengan yang lain.
Pelajar belajar dari penyelesaian masalah yang nyata, pelajar juga bergabung
pada suatu pembangkit-pengetahuan. Pengajar juga masuk ke dalam sebagai pelajar
bersama-sama dengan siswanya. Bentuk tugas juga akan diolah dan pengetahuan
dinilai dan diciptakan lalu membangun pengetahuan yang baru.
C.
Penerapan Blended Blended e-Learning
Jika dikaji
secara terminologis maka blended e-learning menekankan pada penggunaan internet
seperti pendapat Rosenberg (2001) menekankan bahwa blended e-learning merujuk
pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang
dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell
(2002), kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam
pendidikan sebagai hakekat blended e-learning, termasuk untuk pendidikan guru.
Secara spesifik dalam pendidikan guru blended e-learning memiliki makna sebagai
berikut.
1.
Blended e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan,
pelatihan-pelatihan tentang materi keguruan baik substansi materi pelajaran
maupun ilmu pendidikan secara online.
2.
Blended e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai
belajar secara konvensional (model belajarkonvensional, kajian terhadap buku
teks, CD-ROM, dan latihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan
perkembangan globalisasi.
3.
Blended e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvesional di
dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melaluipengayaan content
dan pengembangan teknologi pendidikan.
4.
Kapasitas guru amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara
penyampaiannya. Makin baik keselarasan antarconten dan alat penyampai dengan
gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan
memberi hasil yang lebih baik.
5.
Memanfaatakan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan
sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah
dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.
6.
Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan komputer networks).
7.
Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di
komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja
bila yang bersangkutan memerlukannya.
8.
Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal
yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di
komputer.
Pendapat Haughey (1998) tentang pengembangan blended e-learning
mengungkapkan bahwa terdapat tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem
pembelajaran berbasis internet, yaitu:
1. Web course adalah penggunaan internet
untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya
terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka.
2. Web centric course adalah penggunaan
internet yang memadukan antar belajar jarak jauh dan tatap muka (konvesional).
3. Model web enhanced course adalah
pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang
dilakukan di kelas.
Ada tiga hal dampak positif penggunaan internet dalam pendidikan yaitu: (1)
peserta didik dapat dengan mudah mengambil mata kuliah di mana pun di seluruh
dunia tanpa batas intuisi atau batas negara. (2) peserta didik dapat dengan
mudah belajar pada para ahli di bidang yang diminatinya. (3) kuliah/belajar
dapat dengan mudah diambil diberbagai penjuru dunia tanpa bergantung pada
universitas/sekolah tempat si mahasiswa belajar.
D.
Prosedur Blended learning dalam Pembelajaran
Peningkatan kualifikasi guru merupakan salah satu prioritas pemerintah
indonesia, hal tersebut sebagai wujud realisasi UU guru dan dosen no.14/2005
yang mempersyaratkan guru untuk memiliki kualifikasi minimal S-1 dan memiliki
sertifikat sebagai pengajar. Pada saat ini guru di Indonesia berjumlah sebanyak
2.667.655 orang (depdiknas,2007). Di samping kualitas akademik guru, kondisi
peningkatan kualifikasi akademik guru, kondisi kekurangan guru juga masih
dialami sebagian wilayah di indonesia pada berbagai jenjang pendidikaaan. Pada
tahun 2007, selain Universitas Terbuka pemerintah Indonesia melalui Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi dan Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan
menetapkan 10 LPTK untuk secara bersama-sama menyelenggarakan sistem PJJ untuk
program peningkatan kualifikasi guru melalui pendidikan SI PGSD.
PJJ pada program ini berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi
dengan menggunakan internet sebagai media utama, tatap muka dilakukan hanya
beberapa kali pada program residensial, selebihnya menggunakan program
e-learning. Keberhasilan PJJ PGSD dan sistem pembelajaran jarak jauh yang
menggunakan e-learning sebagai alat utama, sangat menentukan oleh model
learning management system (LMS) yang dikembangkan, dan pemerintah bersama
pihak terkait masih mencari-cari model LMS yang handal yang mampu mewujudkan
profil guru profesional, yang memiliki kompetensi kependidikan dan keguruan
yang setara bahkan melebihi guru dengan sistem pembelajaran reguler. Model
blended e-learning merupakan kombinasi dari beberapa pendekatan pembelajaran
yaitu pembelajaran conventional berupa tatap muka dan e- learning yang berbasis
internet.
Seperti yang dikemukakan oleh Gegne (1984) Belajar yang efektif mempunyai
kriteria sebagai berikut: (1) melibatkan pembelajaran dalam proses belajar; (2)
mendorong munculnya keterampilan untuk belajar mandiri (learn how to learn);
(3) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pembelajar; (4) memberi motivasi
untuk belajar lebih lanjut. Darmodihardjo (1998:39) mengemukakan bahwa tutor
dalam pelaksanaan tugasnya memiliki peran yang meliputi; (1) sebagai motivator,
(2) sebagai fasilitator, (3) sebagai pembimbingan dan evaluator, (4)
pengembangan materi pelajaran, (5) pengelola proses belajar mengajar, (6) agen
pembaruan. Sementara itu Muhammad Zen (2000:69-70) mengemukakan bahwa tugas
tutor selaku pengajar meliputi; (1) sebagai informator, (2) sebagai organisator,
(3) sebagai motivator, (4) sebagai pengarah, (5) sebagai inisiator, (6) sebagai
transmiter, (7) sebagai fasilitator, (8) sebagai mediator, (9) sebagai
evaluator.
Konsep Tutorial
Tutorial adalah suatu proses pemberian bantuan dan bimbingan belajar dari
seseorang kepada orang lain, baik secara perorangan maupun kelompok. Dalam
konsep ini, tutorial merupakan layanan belajar yang memungkinkan terjadinya
proses pembelajaran dengan karakteristik yang berbeda, seperti dosen yang
berfungsi sebagai fasilitator kegiatan belajar bukan sebagai pengajar.
Jenis-jenis tutorial yang sediakan adalah tutorial tatap muka (TTM) dan
tutorial on-line.
1.
Tutorial Tatap Muka
Dalam program
PJJ S1 PGSD ini semua mata kuliah diberikan bimbingan tutorial tatap muka (dilakukan
pada masa residensial).
2.
Tutorial Online
Tutorial ini
dilakukan dengan bantuan jaringan komputer. Model tutorial
online adalah model tutorial yang menggunakan jaringan komputer. Materi
diberikan dalam bentuk naskah tutorial yang dapat diakses dimana saja mahasiswa
berupa tanpa harus bertatap muka dengan tutor. Dalam model ini, tutor harus
mempersiapkan naskah tutorial yang memungkinkan terjadinya interaksi antar
tutor dan mahasiswa. Selain itu, partisipasi secara aktif dari mahasiswa juga sangat
diperlukan karena memengaruhi nilai akhir tutorial.
Daftar
Pustaka
Langganan:
Postingan (Atom)